Kamis, 28 Agustus 2008

2.Tangan Yang Menggapai

Rambut panjangnya diikat erat ke belakang
Coklat kehitaman , lurus dan tebal
Wajah ayunya tak sanggup sembunyikan duka deritanya
Mata sipitnya sayu menatap kosong
Hampa.......seolah bingung
Digigit kuat bibir atasnya
Menahan jatuh bulir air mata yang menggelantung di sudut mata
Sesekali ditundukkannya kepalanya
Menatap dan mengelus perlahan perutnya
Mungkin usia janin ini sudah memasuki bulan ke 5
Dia tak ingat persis lagi
Tepatnya sungguh dia tak ingin mengingatnya
Ditatapnya mata Bunda Maria di hadapannya
Terasa teduh dan penuh kasih
Di sanalah dia selalu mendapat kedamaian hati
Ya......hanya di sanalah tempat dia mengadu
Menumpahkan segala suka dan duka hatinya
Dia yakin Bunda mendengar cerita hatinya
Ya.....seperti kali ini juga
Tak hentinya dia bertanya
Mengapa ya ......Tuhan, ya...... Bunda
Semua ini harus terjadi pada dirinya
Yang sejak lahir tak pernah kenal ayah bunda
Diletakkan begitu saja di panti asuhan
Hanya dengan secarik kertas lusuh
Bertuliskan sebuah nama "Siao Lan"
Yang selalu mengalami perbedaan
Karena nama, mata sipit dan kulit putihnya
Di masa kecilnya sering dia berdoa
Agar Tuhan mengubahnya bermata bola dan berkulit hitam
Manis seperti teman-teman lainnya
Sehingga dia boleh tidak mengalami perbedaan perlakuan
Ya Tuhan, Ya Bunda
Dia tidak tahu untuk apa dilahirkan
Jika boleh memilih, dia tidak ingin dilahirkan
Buat apa lahir bila mengalami penderitaan tak berkesudahan
Mana kenyataan hidup itu indah seperti dikabarkan Romo
Yang diajarkan Suster dan para orangtua asuh
Mana......................????????????
Bukankah yang didapati selama ini
Hanya kepahitan, pergumulan hidup dan batin
Hidup ini sangat tidak indah
Hidup ini terlalu berat
Dan peristiwa "Tragedi Mei 1998" terjadi
Melengkapinya sebagai pelaku penderita
Karena diapun menjadi salah satu korban peristiwa itu
Membuahkan janin yang tak diinginkannya
Ya......dia sudah menjadi korban politik
Akibat setan-setan berkedok manusia
Berkeliaran membabi buta mengejar ambisi
Menjadikan Indonesia sebagai ajang pembantaian ras
Seperti Holocaust di jaman Nazi
Seperti kelaliman Khmer Merah Kamboja
Ya Tuhan, ya Bunda
Dia tidak tahu apa itu permainan politik
Dia juga tidak ingin tahu
Dia hanya ingin hidup layak, aman dan tenteram
Bekerja seperti biasa, makan sehari 3 kali
Berlebihankah permintaannya ini ?
Dia tidak yakin dan putus harapan
Ingatannya kembali menerawang ke sudut kamar
Tempat dia meletakkan racun pestisida
Yang sedianya diminum siang tadi
Namun tanpa disadarinya dia sudah berada di kapel ini
Berlutut di hadapan Bunda Maria
Dia terhenyak, merenung meencoba mencari jawaban
Hati kecilnya berbisik bahwa Roh Kudus sudah arahkan kakinya
Menghadap dan menyerahkan diri kepadaNya
Ditatapnya kembali wajah Bunda Maria
Kasih dan kesetiaan terpancar dari mataNya
Ya....bukankah Bunda Maria mengalami begitu banyak kepahitan
Menyaksikan penderitaan buah hati yang tak berdosa
Ditolehnya Yesus yang terpaku di kayu salib
Telah rela menyerahkan kehidupannya untuk orang-orang yang dicintaiNya
Menebus dosa orang-orang yang dicintai juga yang mengkhianatiNya
Ya Tuhan, ya Bunda
Bukankah Yesus adalah panutan hidupnya
Bukankah Yesus penerangan baginya
Bukankah dia percaya penuh padaNya
Seperti doa iman yang selalu diucapkannya
Ya Tuhan, ya Bunda
Maafkan dirinya yang berdosa ini
Hampir saja dia khilaf mengkhianati perngorbanan Yesus
Airmata penyesalan menetes perlahan
Membasahi wajahnya
Ya Tuhan, ya Bunda
Dia tidak akan takut lagi
Dia tidak akan kuatir lagi
Dielusnya perutnya
Tekadnya sudah bulat
Apapun yang terjadi dalam kehidupan ini
Walaupun berbeda dengan keinginannya
Pastilah merupakan kehendak dan rencanaNya
Tuhan mengijinkannya mengalami semua ini
Sekarang dia belum bisa memahami
Berat .......memang berat
Tapi dia yakin suatu saat
Dia akan mendengar jawaban dariNya
Seberapa berat penderitaannya
Tak ada yang lebih berat
Dari penanggungan Yesus di kayu salib
Lalu.........
Dia bangkit perlahan namun pasti
Ya .........
Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya

Tuhan memberkati,
Jazzy
Miyakojima-Suminoe, 9 Juni 2001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar